Manula di Aksi Palestina, Tetap Semangat Meski Sekujur Tubuh Berkeringat


www.pks-jaksel.or.id

PKS Jaksel : Aksi solidaritas untuk rakyat Palestina yang digelar Jum’at lalu (2/1) di Bundrah HI Jakarta, tidak hanya dihadiri oleh para kaula muda atau mahasiswa yang gemar berorasi dan memiliki fisik yang kuat untuk melakukan long march dari Bundaran Hotel Indonesia hingga Kedutaan Besar Amerika, aksi ini juga dihadiri oleh para manula yang telah lanjut usia..

Sebut saja namanya Bu Pur, wanita berumur hampir kepala enam ini, sejak pagi sudah semangat untuk ikut aksi. Ia rela untuk tidak berdagang sayur mayur yang biasa ia jajakan dari rumah ke rumah dengan menggunakan bakul dan tampah.

Pukul sepuluh kurang limabelas menit, Bu Pur segera munuju metromini S 71 yang sudah stand by di bawah kolong tol yang berdekatan dengan rel kereta api Bintaro. Ia tampak rapi, dengan menggunakan busana muslim warna biru tua plus jilbab putih yang biasa ia kenakan saat mengaji, beda sekali dengan penampilannya saat menjajakan sayuran yang tampak alakadernya.

Bu Pur tidak tahu apa itu aksi apalagi demontrasi, yang tergambar di benaknya adalah acara piknik seperti yang diceritakan ibu-ibu tetangganya, setiap selesai melaksanakan acara yang diselenggrakan oleh PKS.

Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit bis metromini yang ditumpangi oleh lebih dari tigapuluh orang kader dan simpatisan PKS pun melaju, Bu Pur sangat senang, bisa melepaskan penat meskipun hanya sesaat. Hembusan angin dari luar jendela yang menerpa wajahnya, membuat hatinya bertambah sumringah.

Setelah hampir setengah jam berada dalam kendaraan, bus pun tiba di lokasi aksi Bundarah HI. Bu pur kaget bukan kepalang melihat kerumunan massa yang membawa bendera PKS dan Palestina. Kagetnya semakin bertambah manakala ia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter.

Bu Pur pun tengok kanan kiri, ternyata ia merasa ia tidak sendiri, banyak pula manula yang tetap semangat melakukan aksi sambil meneriakan kalimat takbir. Seakan tersulut, api semagat di dalam tubuh Bu Pur pun berkobar, ia terus berjalan diantara ribuan massa yang bertebaran menutupi jalan.

Melihat para ibu-ibu tampak kelelahan, sang Ketua DPRa yang mengepalai rombongan ibu-ibu tersebut tampak khawatir, ia pun menanyakan kesangupan ibu-ibu untuk terus berjalan.hingga kedutaan.

“Bagaimana ibu-ibu, sudah cape? Kita istirahat sebentar aja dulu ya.., atau masih semangat?,” tanya sang Ketua DPRa..

“Semangat,” ujar Bu Pur dengan suara lantang meski sekujur tubuhnya berkeringat. (adine)